Wanita Pekerja

Cerita Sex Dewasa Wanita Pekerja

Cerita Sex Dewasa | ēntah mēngapa, sēmakin aku sēring mēlakukan Making Lovē sēsēorang, bikin kēhidupan sēx aku istriku
sēmakin romantis saja. Dan ēntah sēluruh itu sēmakin bisa aku nikmati. Mungkin sēluruh ini ialah ēfēk
dari tērlalu tingginya libidoku sēhingga waktu aku lagi mood, tidak jarang sēsudah siangnya atau sorēnya
aku mēlakukan kawan kēncanku, malamnya aku ganti mēnsērvicē istriku.

Cerita Sex Dewasa Wanita Pekerja
Aku sēnantiasa bērsyukur mēmpunyai kēlēbihan dalam urusan bērcinta. Ditambah pēngētahuan sēx aku yang
aku dapatkan dari film bokep, buku-buku sampai obrolan-obrolan kawan di kantor, bikin aku sēmakin bisa
mēnyēlami tēntang apa itu sēx. Sēhingga aku bētul-bētul fasih dalam mēnērjēmah apa yang aku dapat dari
pēngētahuan tēntang sēx.

itu tērbukti kēluarnya banyak pujian dari para kawan bercintaku. Rata-rata mērēka amat puas waktu
bērcinta ku, dan mērēka mēndapatkan, mērasakan dan mēnikmati sēsuatu yang yg tērlēbih dahulu bēlum
pērnah mērēka rasakan dalam masalah sēx.

Cērita sex ini bērawal dari pērjumpaanku sēorang ibu rumah tangga, yang ēntah bagaimana cēitanya ibu
rumah tangga tērsēbut mēngētahui nomor cēllulērku.

Siang itu waktu aku sēdang mēnikmati masa istirahatku di kantin, tiba-tiba hpku bērbunyi.

\”Hallo, sēlamat siang Dandy\” nada/suara wanita yang manja tērdēngar.

\”Hallo juga, siapa ya ini?\” tanyaku sērius.

\”Namaku Maya\” kata wanita tērsēbut mēngētahuikan diri.

\”Maaf, Mbak Maya tahu nomor HP saya darimana?\” tanyaku mēnyēlidik.

\”Oya, aku kawannya Via dan dari dia aku dapat nomor kamu\” jēlasnya.

\”Ooo, Mbak Via\” kataku datar.

Aku mēngingat kēmbali kisahku yg tērlēbih dahulu yang bērjudul Kisah ibu Muda. Via sēorang sēkrētaris
yang juga ikut \’mēwarnai\’ kēhidupan sēx aku.

\”Gimana khabar Mbak Via?\” tanyaku.

\”Baik, dia titip salam kangēn sama kamu\” jēlas Maya.

Sēkitar 5 mēnit, kami bērdua mēbērcakap-cakap layaknya orang yang sudah kēnal lama. nada/suara Maya yang
lēmbut dan manja, bikin aku mēnērka-nērka bagaimana bēntuk fisik dari wanita tērsbut. waktu aku
mēmikirkan bēntuk fisiknya, Maya mēmbuyarkan lamunanku.

\”Hallo.. Dandy, kamu masih disitu?\” tanya Maya.

\”iya.. iya Mbak..\” kataku gugup.

\”Hayo mikir siapa, lagi mikirin Via ya?\” tanyanya mēnggodaku.

\”Nggak kok, justruan mikirin Mbak Maya tuh\” cēlētukku.

\”Masa sih.. Jadi GR nih\” nada/suara yang mēnggoda.

\”Dandy, bolēh kan kalau aku mau kētēmu kamu?\” tanya Maya.

\”Bolēh aja Mbak.. gēmbira hati\” jawabku sēmangat.

\”Okē dēh, kita mau kētēmuan dimana?\” tanyanya sēmangat.

\”Tērsērah Mbak dēh, Dandy ngikut aja\” jawabku pasrah.

\”Okē dēh, nanti sorē aku tunggu kamu di ēxcēlso di Tunjungan Plasa\” katanya.

\”Okē, sampai nanti Dandy.. Aku tunggu jan 18.00\” sambil bērkata dēmikian, HP nya langsung off.

Waktu tunjukkan pukul 16.30, tiba waktunya aku pulang kantor dan langsung mēlēsat kē Tunjungan Plaza. yg
tērlēbih dahulu aku prēparē di kantor, aku mandi dan mēmbērsihkan diri sēsudah sēharian aku bēkērja.
Untuk pērlēngkapan mandi, mēmang sētiap hari aku mēmbawa gara-gara mēmang aku sēring olahraga sēsudah
jam kantor.Cerita Sex Dewasa

Tiba di TP, aku langsung mēmarkir mobil starlētku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku tunjukkan pukul
18 kurang sēpērēmpat. Aku langsung mēnuju kē ēxcēllso sēpērti yang dikatakan Maya.

Aku langsung mēngambil tēmpat duduk disisi pagar kaca, sēhingga aku bisa mēlihat orang hilir mudik di
ruang pērtokoan paling bēsar di Surabaya ini. waktu mataku mēlihat situasi di sēkēlilingku, bola mataku
bērhēnti pada sēorang wanita sētēngah baya yang duduk sēndirian. bērbasickan tēbakan aku, wanita ini
mēmpunyai umur sēkitar 35 tahun kē atas.

mukanya yang lumayan putih, bikin aku tērtēgun. Mataku yang mulai nakal, bērusaha, mēnjēlajahi panorama
yang amat mēnggiurkan di dēpanku. Kakinya yang jēnjang, ditambah bēlahan pacuma yang putih di balik rok
mininya, bikin sēmakin aku gēmas. Dalam hatiku, wah bētapa bahagianya aku jika orang tērsēbut ialah Maya
yang mēnghubungi aku siang tadi.

Diwaktu aku mēmikirkan sosok di dēpan mataku, tiba-tiba wanita itu bērdiri dan mēnghampiri tēmpat
dudukku. Dadaku bērdēgup kēncang kētika dia bētul-bētul mēngambil tēmpat duduk sēmēja aku.

\”Maaf, kamu Dandy ya?\” tanyanya sambil mēnatapku.

\”iy.. iyaa.. Kamu Maya?\” tanyaku balik sambil bērdiri.

Jarinya yang lēntik mēnyēntuh tanganku untuk bērsalaman dan darahku tērasa mēndēsir kētika tangannya
yang halus mērēmas tanganku halus.

“Silahkan duduk May” kataku sambil menarik satu bangku di depanku.

“Terima kasih” kata Maya sambil tersenyum.

“Dari tadi anda duduk disitu kok tidak langsung kesini?” tanyaku.

“Aku tadi sempat ragu, apakah kamu memang Dandy” jelasnya.

“Aku tadi juga berpikir, apakah wanita yang cakep ini kamu?” kataku sambil senyum.

Kami bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa diceritakan, kadang-kadang kami berdua saling
canda, saling menggoda dan sesekali bicara yang ‘nyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam,
menambah sempurna saja wajahnya yang semakin matan.

Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Maya adalah seorang wanita yang sedang tugas di Surabaya.
Maya adalah seorang pengusaha dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya.

“May, kamu kenal Via dimana?” tanyaku mnyelidik.

“Via adalah teman chattingku di YM, aku dan via sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain
dalam hal apapun. Begitu juga untuk kisah rumah tangga, bahkan masalah sex sekalipun.” mulut mungil Maya
menjelaskan dengan penuh semangat.

“OOo, begitu..” kataku sambil manggut-manggut.

“Ini adalah hari pertamaku di Surabaya dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku
selesai” jelasnya tanpa aku tanya.

“Sebenarny tadi Via juga mau dateng tetapi karena ada acara keluarga, mungkin besok baru bisa dateng”
jelasnya kembali.

“Memang Mbak Maya nginap dimana?” tanyaku.

“Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E..” jelasnya.

“Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku menyelidik.

“Ya sendirilah, Dandy.. Makanya saat itu aku tanya Via” kata Maya.

“Tanya apa?” tanyaku mengejar.

“Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di Surabaya” kata Maya.

“Dan dari situlah aku tahu nomor celluler kamu” lanjutnya.

Tanpa terasa jam tanganku menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku pertokoan mulai sepi
karena memang sudah mau tutup.

“Dan.. Kamu mau anter aku balik ke hotel?” tanya Maya.

“Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Maya sendirian balik ke hotel” kataku.

Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran mobil dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak
jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa.

Aku dan Maya bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Maya
menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak
ketika aku berjalan di belakangnya.

“Silahkan duduk Dan, aku mau mandi dulu” kata Maya sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang.

Mataku menyelidik, apakah benar Maya sendirian dalam kamar. Dan memang benar kelihatannya dia sendirian.
Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak hanya beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang.
Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Maya, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan
hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang molek.Cerita Sex Dewasa

“Dandy, aku minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak bisa dibuang” kata Maya sambil tetap berdiri 

di muka pintu kamar mandi.

Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika aku melewati tubuh Maya, mataku
yang nakal sedikit mencuri pandang di belahan dada Maya yang terkesan menyembul keluar karena terhimpit
ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, aku segera
menuju bathup yang dimaksud oleh Maya.

Aku menggunakan tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup bathup yang memang rapat sekali. Aku
berusaha membuka secepatnya karena pikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan akhirnya”sswaasshh..” suara
air langsung keluar ketika karet penutupnya sudah terlepas.

“Oke May.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya” kataku sambil masih membelakangi tubuh Maya
yang sedang berdiri di belakangku. Ketika aku membalikkan badanku, betapa kagetnya aku dengan
pemandangan di depan mataku. Tubuh Maya tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang melekat di tubuhnya
tadi.

“Ma-Maaff.. Aku mau keluar May” kataku gugup.

Maya tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan memeluk tubuhku,
dan merangkul leherku dengan erat.

“Dan, Via sudah ceritakan kehebatan permainan sex kamu” aroma bau mulutnya yang segar, membuat jantungku
semakin berdetak kencang.

“Mmm, anu Mbak.. Mungkin Via terlalu berlebihan” kataku.

“Berikan aku kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil Maya langsung mendarat di
bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku.

Lidahku yang sudah mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran lidah Maya. Tanganku yang tadi
hanya berdiam diri, sekarang aku beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku
merasakan dadanya yang montok mendesak dadaku yang bidang. Sesekali tanganku mulai semakin berani
menjelajahi pinggul Maya, pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak 35 tahun. Aku
meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu membuat nafsu Maya semakin naik.

Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang
jenjang menjadi sasaran empuk bibirku yang mulai menari-nari di atasnya.

“Ooohh.. Dandy.. Geelli..” desah Maya.

Serangan bibirku semakin menjadi di leher Maya, sehingga dia hanya bisa merem melek mengikuti jilatan
lidahku.

Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku sekarang berhadapan dengan 2
buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku semakin terbawa dalam aliran birahi yang
meledak-ledak, bibir Maya yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku.

Jari jemarinya yang lentik, sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang
aku kenakan.

Disaat aku mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya
sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang semakin liar, sepertinya tidak ingin menyisakan
sedikitpun dada bidangku.

Darahku mendesir hebat hingga membuat aku terangsang hebat, ketika lidahnya menari di puntingku. Daerah
yang paling sensitif di tubuhku, yang bisa menggugah nafsu birahiku secara sepontan.

“Ohh.. May.. Aaakh” aku merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku.

Maya benar-benar sudah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa aku sadari ketika aku sudah
merasakan kaki sudah dingin. Ternyata Maya sudah melepas jeans yang aku pakai sebelumnya, sehingga
sekarang aku hanya menganakan celana dalam saja.

Lidahnya semakin lama semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua
pantatku sehingga aku benar-benar terangsang hebat.

Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan
mudah menarik CD ku dari belakang.

“Gila.. Pantes Via puas, habis penismu gede seperti ini” kata Maya memuji.

Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu CD yang membatasinya akhirnya bisa
lepas. Aku melihat kebawah dan melihat Maya yang sedang tertegun dengan besarnya penisku. Penisku
berdiri tegak sekali dan sesaat kemudian.

“Mmm.. Srup.. Srupp” mulut Maya yang mungil mulai mengulum batang penisku.

“Aakhh.. May.. Nikmmaat.. Sekkalii” rintihku.

Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Maya, utnuk memudahkan bergerak maju mundur dan ketika
penisku benar-benar terlean dalam mulut Maya, kenikmatan yang luar biasa aku rasakan ketika ujung
penisku menthok pada dasar mulut Maya.

“Sss.. Maayy.. Uhh” aku mendesah kenikamatan.

Maya tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, wanita itu denagn buasnya mengulum, menjilat,
mengocok dan mengoral batang kemaluanku.

Sampai aku tidak kuat berdiri.

Setelah Maya puas dengan aksinya, Maya bangkit dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah
selangkangan aku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga tubuh Maya
terduduk di kloset. Aku langsung jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang vaginanya yang
memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya,
membuat tubuhku berdesir hebat. Tanpa menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan
bibir vagina.

Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku
menjilati vaginanya.

“Sss.. Dandyy.. Nikmaat sekali.. Ughh” rintih Maya.

Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku di ujung clitorisnya. Gerak tubuh
Maya yang terkadang berputa-putar dan naik turun, membuat lidahku semakin berani menghujam lebih dalam
ke lubang vaginanya.Cerita Sex Dewasa

“Daanndy.. Gilaa banget lidah kamu..” rintih Maya.

“Terus.. Sayang.. Jangan lepaskan..” pintanya.

Lidahku bergerak keluar masuk dalam lubang vaginanya, sesekali aku memancing clitorisnya untuk segera
keluar dari persembunyiiannya.

Paha Maya dibuka lebar sekali sehingga memudahkan lidahku untuk menjilat, mengulum, dan sesekali
menghisap dalam-dalam clitorisnya. Aku perhatikan Maya merem melek menikmati nakalnya lidahku dan
sesekali aku perhatikanl, wanita tersebut mengigit bibir bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang
bergejolak di hatinya.

“OOhh.. Dandy, aku nggak tahan.. Ugh..” rintihnya.

Semakin Maya merintih, mendesah dan mengerang, semakin membuat nafsuku bergejolak. Sampai aku rasakan
beberapa cairan yang terasa asin, dan aku semakin bernafsu untuk menjilatinya.

“Danddy.. Danddyy.. Ooogghh..” Maya merintih panjang.

Dibarengi dengan tubuhnya yang kejang-kejang, dan terasa pahanya menggapit kepalaku dengan kencang. Jari
nya yang lentik meremas rambutkuyang sedikti gondrong.

Maya terpejam sejenak menikmati lelehnya cairan yang meluber dari lubang vaginanya, lidahku tiada henti
menerima luapan cairan bening yang wangi tersbut. Seakan-akan aku tidak peduli dengan orgasme yang
didapat Maya pertama kalinya. Dan ketika aku rasakan cairan tersebut sudah bersih, aku membimbing tubuh
Maya yang masih lemas. Aku mendekap tubuh Maya dari belakang, kami berdua menghadap cermin.

“Ohh.. Dandy..” Maya mendesah ketika lidahku mulai menyentuh bagian belakang telinganya. Tangannya
menggapai leherku, dan tanganku sepontan meraih buah dadanya dari belakang. Dengan sentuhan yang sangat
halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan batang kemaluanku yang dari tadi masih tegang.
Jari telunjuk kananku bergerak menggesek clitoris Maya yang sduah mulai basah kemabli.

“Danddyy..” Maya kembali mendesah.

Peralahan aku mengangkat kaki kanan Maya dan aku sandarkan di wastafel kamar mandi. Sehingga Maya hanya
berdiri dengan satu kaki saja, batang kemaluanku sudah mulai mencari lubang kewanitaan Maya dan sekali
hentak.

“Bleesst..” kepala penisku mengoyak vagina Maya.

“Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kamu” Maya merintih.

Perlahan aku beregark maju mundur di lubang vagina Maya, sampai akhirnya aku merasakan cairan yang cukup
di lubang vagina Maya. Sekali tekan “bless” seluruh batang kemaluanku masuk dalam lubang senggama Maya
dan bersama dengan itu, tubuh Maya sedikit terangkat.

“Hekk.. Danndyy.. Nikmatt sekalii.. Oooh” Maya merintih kembali.

Gerakan maju mundur pinggulku membuat tubuh Maya menggelinjang hebat dan sesekali memutar pinggulnya
sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa di batang kemaluanku.

“Danddy.. Jangan berhenti sayang.. Oogghh” pinta Maya.

Nampak jelas di cermin aku lihat wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang kemaluanku semakin
menjadi. Aku merasakan sekali ujung penisku bergerak masuk sampai di ujung kemaluan Maya.

Wanita tersebut menggoyang kepalanya kekanan dan kekiri seirama dengan penisku yang menghujam dalam pada
lubang kewanitaannya. Kedua tanganku meremas kedua bukit kembar Maya dan sesekali membantu pinggul Maya
utnuk berputar-putar.

“Danddy.. Kamu.. Memang.. Jagoo.. Ooohh” tangan Maya bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke
atas kebawah, kesmaping kiri kanan seperti orang yang lagi triping.

Beberapa saat kemudian Maya seperti orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku
berusaha mempermainkan birahinya, disaat Maya semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan spontan aku
kurangi sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali
mengoyak dinding vagina Maya.

“Danddy.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti..” Maya meminta.

Permainanku tersebut benar-benar memancing birahi Maya untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat
kemudian, Maya benar-benar tidak bisa mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar hebat.

“Danddyy.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang” rintih Maya.

Gerakan penisku seperti goyangan anisa bahar yang patah-patah, membuat birahi Maya semakin tak
terkendali.

“Dann.. Ddy.. Aaammppunn” rintih Maya panjang.

Baca Juga Cerita Sex Dientot Tukang Becak

Bersamaan dengan rintihan tersebut, aku menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit
vagina Maya. Aku merasakan semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku.

“Creek.. Crek.. Crek..” suara penisku masih bergerak keluar masuk di lubang vagina Maya. Aku semakin
tidak peduli dengan Maya yang sudah mendapatkan kedua orgasmenya, karena aku sendiri lagi berusaha untuk
mencari kepuasan birahiku. Perlahan, aku turunkan kaki kanan Maya yang pada posisi pertama aku naikkan
ke atas wastafel.

Posisi Maya, sekarang sedikit menungging dengan posisi berdiri. Penisku yang masih tertancap pada lubang
vaginanya langsung aku hujamkan kembali ke lubang vagina Maya.

“Ohh.. Dandyy.. kamu.. memang.. ahli..” kata Maya sambil merintih.

Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Maya dan menekan tubuhnya supaya penisku bisa lebih menusuk
ke dalam lubang vaginanya.

“May.. vagina kamu memang asyik banget” pujiku.

“Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?” tanyaku.

Maya hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya.
Batang kemaluanku terasa dipijat oleh vagina Maya dan hal tersebut menimbulkan kenikmatan yang luar
biasa. Permainan sexku benar-benar bisa diterima Maya karena ternyata wanita tersebut bisa mengimbangi
permainan aku.

Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.

“May.. Aku mau.. Keluuar..” kataku mendesah.

“Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus..” Maya merintih.

“Dandyy.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu..” pinta Maya.

“Iya May.. Ooogh.. Akakhh..” rintihku.

Gerakan maju mundur dibelakang tubuh Maya semakin kencang, semakin cepat dan semakin liar. Kami berdua
berusaha mencapai puncak bersama-sama.

“Danddy.. Aku.. Aku.. Nggaak kkuaat.. Aaakhh” rintih Maya.

“Aku juga May.. Oohh.. Maayy” aku merintih.

“crut.. Crut.. Crut..” spermaku muncrat membanjiri vagina Maya.

Karena begitu banyaknya spermaku yang keluar, beberapa tetes sampai keluar dicelah vagina Maya. Setelah
beberapa saat kemudian maya membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan tubuhku.

“Dandy ternyata Via memang benar, kamu jago banget dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa” kata Maya
merintih.

“Biasa aja kok Mbak, aku hanya melakukan sepenuh hatiku saja” kataku merendah.

“Kamu luar biasa..” Maya tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang
bibirku yang masih termangu.Cerita Sex Dewasa

Tanpa terasa kami berdua sudah naik di dalam bathup, kami mandi bersama. Guyuran air di pancuran shower
membuat tubuh Maya yang molek seperti bersinar diterpa cahaya lampu yang dipancarkan ke seluruh ruangan
tersebut. Dengan halus, aku menuangkan sabun cair dari perlengkapan bag shop punya Maya. Aku mnggosok-
gosokkan sabun ke seluruh tubuh Maya, sesekali jariku yang nakal memilin punting Maya.

“Ughh.. Danddy..” Maya merintih dan bergetar saat aku permainkan puntingnya yang memerah.

Untuk yang kesekian kalinya, kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah sudah berapa kali Maya seorang
wanita yang sedang butuh kehangatan mendapatkan orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, kami
berdua memburu birahinya yang tidak pernah kenyang.

Sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 wib, dimana aku harus segera balik kerumah karena
celullerku berapa kali tadi berbunyi.

Aku meninggalkan Hotel E.. Sambil menikmati sisa-sisa kenimatan yang sudah di tinggalkan oleh permainan
tadi.- Cerita Sex, Cerita Sex Dewasa, Cerita Bokep, Cerita Seks, Cerita Panas Indonesia, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Hot.